Mengunjungi Benteng Salahudin Al-Ayubi (Mesir)

Kairo juga mempunyai satu tempat yang indah dan mempesona bernama Benteng Salahudin Al-Ayubi. Benteng ini ada di dataran tinggi dan telah berusia ratusan tahun. Di tengah benteng, kita akan temukan adanya sebuah masjid yang dinamakan Masjid Muhammad Ali.

Mengunjungi Benteng Salahudin Al-Ayubi (Mesir)
Mengunjungi Benteng Salahudin Al-Ayubi (Mesir)

Tatkala masuk area dalam benteng, ada beberapa fasilitas yang tersedia, antara lain restoran dengan pemandangan Kairo dari ketinggian, Museum Militer, Museum Polisi. Selain itu, anda akan temukan juga sebuah taman nan cantik yang mempunyai pepohonan rindang dan terawat dengan baik. Apabila kita lihat sekilas, pohonnya tampak mirip dengan bonsai yang daunnya berukir tulisan Arab.

[ Ikuti Program Umroh Plus Cairo ]

Tulisan itu sebagai bukti bahwa sebelum menjadi museum, Masjid Muhammad Ali adalah sebuah bangunan yang sangat gagah dan agung karena didirikan oleh seorang tokoh ulama besar di masa peperangan. Dinding Masjid Muhammad Ali penuh dengan tulisan kaligrafi Arab dan untuk kubah bagian dalamnya ada juga tulisan kaligrafi Arab yang indah.

Sebenarnya, ada tiga benteng perang yang pernah dibangun Shalahuddin pada saat dirinya memimpin dinasti Ayyubiyyah di Mesir. Benteng pertama adalah Benteng Salahuddin Kairo, yang terletak di Kairo dan menjadi benteng pertahanan perang terbesar di dunia saat itu. Benteng kedua teletak di Wadi ar-Rahla, tetapi saat ini telah hilang dimakan usia. Adapun benteng pertahanan ketiga adalah Benteng Salahuddin Taba, yang berada di Pulau Firaun, Taba.

Sejarah  Benteng Salahudin Al-Ayubi (Mesir)

Dinasti Ayubiyah merupakan salah satu kerajaan yang di dirikan oleh Salahudin al-Ayubi adalah seorang tokoh kurdi yang berkebangsaan Suriah. Bersama Shirkuh, ia menaklukan Mesir untuk Raja Zengiyyyah Nuruddin dari Damaskus pada 1169. Selama berkuasa pada abad ke-12 dan ke-13 dinasti ini memiliki daerah kekuasaan yang cukup luas meliputi Mesir, Suriah, Yaman(kecuali pegunungan utara), Diyar Bakr Makkah, Hijaz dan Irak Utara.

Mengunjungi Benteng Salahudin Al-Ayubi (Mesir)
Mengunjungi Benteng Salahudin Al-Ayubi (Mesir)

Salah satu prestasi tersebesar yang pernah di torehkan dinasti ini adalah memukul mundur dan membuat malu tentara salib dalam perang Hattin, yang bertujuan menaklukan dan mengambil alih Baitul Maqdis dari tangan tentara salib. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1187.

Kemudian salahudin wafat pada tahun 1193, dan perlahan laju kerajaan semakin melemah. Dinasti ini berakhir setelah pada tahun 1250 Turanshah, sultan Ayubiyah terakhir terbunuh oleh Budak Mamluk Aibeknya. Selama berkuasa, dinasti ini memiliki armada dan benteng yang sangat kuat. Dinasti Ayubiyah mendirikan sejumlah benteng kokoh di sejumlah daerah yang pernah menjadi kekuasaanya.

Salahudin mendirikan benteng ini antara 1176 dan 1183 M, beberapa tahun setelah mengalahkan Dinasti Fatimiyah. Pendiriannya dimaksudkan untuk membendung dan melindungi Mesir dari tentara Salib.

Kisah diatas dicatat sebagai salah satu karakter pemurah dari Salahudin, bahkan kemualian akhlak tersebut tercermin sampai kepada musuh islam sekalipun. Walaupun Salahudin sedang berada dalam posisi diatas angin namun beliau tetap berlaku adil dan menghormati lawan. Hal diatas sangat sulit kita jumpai pada pemimpin hari ini, saat mereka sudah berada dipuncak kekuasaan saat itulah terkadang sebagian dari pemimpin tersebut tergelincir. Tergelincir menjadi sosok yang merampas hak orang lain dan banyak melakukan keserakahan di muka bumi.

Sudah sejak lama kita merindukan sosok pemimpin yang dapat membebaskan kembali bumi Palestina dari cengkaraman israel serta terlahirnya kembali pemimpin adil di muka bumi layaknya Salahudin Al Ayubi. Marilah sepenggal kisah diatas kita jadikan kado pelajaran terbaik bagi umat muslim dan sebagai langkah awal kita agar dapat melahirkan kembali generasi Salahudin dimasa yang akan datang.

Sesuai merampungkan benteng, ia membangun dinding yang mengelilingi dua pusat kota ketika itu, yaitu Kairo dan Fustat. Benteng itu hingga kini masih berdiri kokoh dan berlokasi tak jauh dari pusat Kota Kairo modern. Benteng Salahuddin selanjutnya berada di suriah yang lokasinya terletak di 7 Km sebelah timur dari kota Al-Haffah dan 30 Km sebelah timur dari kota Latakia. Lokasi tersebut sebetulnya telah di anggap strategis oleh para pengusaha sebelumnya, setidaknya sejak abad le-10.

Situs ini pernah berada di bawah Kaisar Bizantium John I Tzimiskes. Pada awal abad ke-12, kaum Frank memegang kendali situs dan pada 1188 jatuh ke tangan pasukan Saladin setelah pengepungan tiga hari. Pada 2006, UNESCO memasukkannya dalam Situs Warisan Dunia di bawah Pemerintah Suriah.

Selain itu, benteng yang dibangun oleh Salahudin pada 1171 M ini diperuntukkan guna melindungi Mesir dari serangan tentara salib yang datang dari Eropa.

Sejak dahulu, wilayah Taba yang menjadi tempat berdirinya benteng pertahanan perang Shalahuddin Al-Ayyubi ini merupakan kawasan yang strategis. Laut merah adalah tempat berkumpulnya terusan Suez dan Teluk Aqoba yang merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan Asia dan Afrika. Selain menjadi jalur perdagangan, perairan ini menjadi jalur militer dan jalur perjalanan haji.

Dari pinggiran pantai Taba, kemegahan benteng Shalahuddin yang sudah berumur ratusan tahun ini sudah bisa terlihat. Bangunan inilah yang menjadi saksi keagungan dan kebesaran nama Salahuddin, sang pembebas Jerussalem dari para tentara salib. Sementara itu, sebuah bendera Mesir yang besar tampak berkibar dengan angkuhnya. Seolah membusungkan kebesarannya di mata tiga negara yang terletak dekat sekali di wilayah perbatasannya, yaitu Israel, Yordania, dan Arab Saudi.

Karena terletak di wilayah perbatasan yang menghubungkan tiga negara, dibutuhkan pasport. Pasport ini akan diminta sebelum pengunjung naik ke atas kapal. Dari tempat pemberangkatan kapal ini bisa terlihat para turis yang asyik berenang di pantai Laut Merah yang jernih. Tarif perahu akan diminta saat di atas perahu.

Selanjutnya, kapal akan merapat di pintu masuk benteng Salahuddin yang megah. Benteng pertahanan yang sangat strategis ini memiliki luas sekitar 2.200 meter per segi. Bahan bangunan yang terbuat dari batu kapur membuat benteng ini mampu bertahan ratusan tahun.

Untuk bisa memasuki benteng, kita harus merogoh kocek kembali dan membayar tarif masuk kepada penjaga. Selain itu, ada seorang pemandu dari Mesir yang akan memberikan penjelasan.

Ruangan di dalam Benteng Shalahuddin ditata dengan luar biasa. Di setiap sudut terdapat markaz untuk memantau keadaan musuh. Di dalam benteng juga ada sebuah masjid dan ruangan khusus untuk rapat para tentara. Sementara Shalahuddin juga memiliki ruangan tersendiri di dalamnya.

Di dalam benteng juga terdapat ruangan bawah tanah. Inilah tempat yang sangat aman digunakan untuk bersembunyi ketika diserbu oleh musuh. Pada salah satu dindingnya terdapat tulisan, yaitu:

Nama pendiri: Salah ad-din Ibn Ab’l Mudhafar Yussuf Ayub Ibnu Khalil, Emir yang beriman (Saladin)

Nama pembangun: Ibrahim Ibnu Abi Bahr dan putranya. Dibangun pada tahun 538/1187. Dari atas benteng, pemandangan di sekitar benteng menjadi terlihat indah. Perbatasan dengan israel terlihat sangat dekat, yaitu sekitar 1 km saja. Sementara Teluk Aqobah yang terletak di Yordania juga terlihat begitu dekat.

Tidak hanya bangunannya, ide mendirikan benteng pertahanan perang di pulau firaun Taba juga luar biasa. Dari lokasi inilah Shalahuddin dan pasukannya mampu memantau keadaan di sekitarnya.

Wajar saja jika Shalahuddin membangun benteng yang kuat dan strategis. Hal ini disebabkan dalam sejarahnya Shalahuddin tidak hanya harus berhadapan dengan kaum salib. Namun, Shalahuddin juga menghadapi ancaman dari beberapa kalangan kaum muslim sendiri yang terpecah-belah menjadi beberapa bagian kekuasaan.

Hingga kini, benteng Shalahuddin di Taba merupakan salah satu wisata andalan bagi para turis yang berkunjung ke Mesir. Selain untuk mengagumi kemegahan benteng, pantai sekitar lokasi berdirinya benteng Shalahuddin juga sangat menarik untuk menyelam dan diving. Hal ini disebabkan air pantainya yang bening dan bersih. Dengan begitu, keindahan ikan terumbu karangnya yang menakjubkan juga bisa dinikmati.

Selain megah, udara di sekitar Benteng Shalahuddin Kairo cukup segar. Kabarnya, pemilihan lokasi ini dilakukan dengan cara menyebarkan daging ke seluruh penjuru Kairo. Hasilnya, daging yang ada di kawasan Muqattam bertahan lebih lama dibandingkan kawasan lain.